Kesenian Macapat Yang Terus Menerus Tergerus Jaman

Baca Juga

Sejujurnya saya bukanlah seniman kesenian tradisional ataupun orang yang berkecimpung di dalamnya tetapi bisa dibilang kehidupan saya cukup dekat dengan kesenian tradisional. Walaupun demikian saya merasa kesenian tradisional merupakan salah satu aset bangsa yang sangat berharga yang tidak boleh hilang begitu saja. Di daerah saya sebenarnya ada beberapa kesenian tradisional yang sudah lama berkembang dan dikenal masyarakat seperti Jaranan Sandur dan Macapat. Untuk Sandur sudah lama sekali saya tidak bisa menyaksikannya lagi di sini karena sepertinya memang sudah menghilang. Entah kalau di daerah lain masih ada yang menyelenggarakannya. Sementara untuk Macapat kadang-kadang masih ada yang menyelenggarakannya meski sudah sangat jarang sekali. Dalam 1 tahun juga belum tentu sekali. Sebenarnya seni Macapat ini bukanlah sebuah tontotan tetapi hanya untuk didengarkan saja karena tidak ada aksi peran di sini. Seni Macapat ini umumnya berupa grup yang terdiri dari orang-orang yang sudah sepuh. Kalau grup Macapat yang anggotanya anak-anak muda saya masih belum pernah melihatnya sama sekali tetapi kalau band pop atau rock malah banyak sekali. Kalau anak-anak muda ditanya tentang seluk beluk kesenian ini pasti banyak yang bakalan tidak tahu. Ya begitulah nasib kesenian tradisional Indonesia umumnya. Saya sendiri juga hanya mengetahui sedikit sekali tentang seni Macapat ini. Tidak ada kaderisasi dan tidak ada dukungan dari pihak berwenang sehingga lambat laun menghilang tergilas perkembangan jaman.




Grup kesenian Macapat yang akan saya ulas ini adalah grup yang didirikan oleh pakdhe saya, bapak Giman, mungkin lebih sekitar 15 tahun lalu. Grup ini diberi nama Ngesthi Kawedhar. Salah satu anggotanya adalah bapak saya sendiri. Dalam pertunjukkannya menggunakan sistem giliran, jadi misal bulan ini di rumah pak A maka bulan depan di rumah pak B, begitu seterusnya. Saat pertunjukkan berlangsung menggunakan aneka gamelan. Uniknya gamelan ini semuanya adalah
Persiapan Macapat
handmade pakdhe saya. Pakdhe saya membuatnya dari drum bekas lalu dipotong-potong kemudian dibentuk menjadi gong, gender, saron, kenong, bonang, kendang, dll. Bagian tersulitnya adalah menyelaraskan nada gamelan itu. pakdhe saya kadang harus menghabiskan banyak waktu untuk menyelaraskannya. Sayangnya pakde saya semakin menua sehingga tenaganya semakin berkurang dan anak cucunya tidak ada yang meneruskan usahanya itu sehingga beliau kemudian memilih berhenti membuat gamelan sampai sekarang.

Pertunjukkan Macapat biasanya dimulai lepas pukul 9 malam dengan bantuan pengeras suara sampai dengan pukul 1 dinihari tetapi pukul 00 sesuai aturan pemerintah pengeras suaranya dimatikan. Pertunjukkan diawali dengan membaca aneka tembang-tembang Jawa seperti Pucung, DandangGula, Pangkur, Gambuh, Sinom, Kinanthi, dll yang diiringi alunan suara gamelan. Jadi peserta Macapat ini harus memiliki skill ganda, selain harus bisa nembang mereka juga harus bisa manjak (menabuh gamelan). Begitu selesai nembang maka mereka harus manjakmenggantikan rekannya yang nembang. Memang bikin capek kalau seseorang harus nembang kemudian manjak atau sebaliknya. Oleh sebab itu jika si tuan rumah memiliki cukup banyak duit biasanya mereka lebih suka menyewa panjak sendiri supaya yang nembang tidak kelelahan karena tidak jarang untuk 1 orang bisa nembang sampai ½ jam. 


Sebenarnya tembang-tembang ini berasal dari tulisan Jawa Kuno seperti serat Wulangreh, Kalatidha, dan Wredhatama (sumber Wikipedia). Kalau dilihat isi tembang-tembang Macapat berisi pesan-
Macapat in action
pesan kebaikan seperti untuk selalu ingat kepada Tuhan, berbuat baik kepada sesama, dll. Kalau tidak salah juga macapat ini merupakan salah satu sarana para Walisanga untuk menyebarkan Islam di pulau Jawa. Untuk menembangkannya tidak bisa sembarangan karena setiap tembang ada aturan ritme dan nada yang harus ditaati. Berikut ini saya berikan 1 halaman dari kitab yang berisi tembang-tembang Macapat yang pernah ditembangkan oleh grup kesenian Ngesti Kawedhar. Kitab ini usianya sudah belasan tahun ditulis dengan tangan oleh bapak saya sendiri jadi wajar jika tulisannya jadi agak "mblobor" sekarang. Waktu itu awalnya bapak saya hanya bisa menghapal sedikit sekali tembang-tembang Macapat kemudian dia bertekad belajar sungguh-sungguh kepada seorang kenalannya. Hampir tiap malam beliau belajar dan menghapal tembang-tembang dalam kitab ini sampai akhirnya bapak mampu menguasainya semuanya dengan baik. 
Kitab berisi yang berisi aneka tembang Macapat





Begitu acara selesai pukul 1 dilanjutkan dengan makan ala kadarnya.  Oya untuk saat ini bisa saya sampaikan jika grup Ngesti Kawedhar saat ini sudah bubar karena pakdhe saya sakit-sakitan dan beberapa anggotanya sudah meninggal dunia. Jadi bisa dibilang ini adalah video kenangan sekitar 7 tahun lalu saat giliran di rumah bapak. Syukurlah saya masih memiliki dokumentasinya satu-satunya. Di Wikipedia lengkap tersedia teknis apa dan bagaimana Macapat itu cuma kalau belajar sendiri bakalan sangat sulit (saya sudah lama mencobanya) tanpa ada guru yang membimbingnya. 



Maaf jika videonya terlalu pendek karena jika diupload semua ukurannya sangat besar...
close

UNTUK SAAT INI, ARTIKEL BLOG AKAN DITUTUPI. SEGERA KELUAR/CLOSE TAB INI ATAU TEKAN DISINI. JIKA ANDA TETAP INGIN MEMBUKA ARTIKEL INI, SILAHKAN TEKAN TOMBOL CLOSE. DENGAN ANDA MEMBUKA ARTIKEL KEMBALI, TANGGUNG JAWAB SEPENUHNYA MILIK ANDA, SAYA SUDAH PERINGATI UNTUK MENUTUP TAB INI. TERIMA KASIH. - ADMIN