Pengalaman Mengalami Kecelakaan Lalu Lintas

Baca Juga

Tulisan ini sebenarnya sudah lama pengen sekali saya buat tetapi baru sekarang sempat. Momennya pas dengan 2 buah kejadian yang menimpa salah seorang kerabat istri saya. Yang satu seorang siswi SMA terjatuh dari motor saat mobil di depannya mengerem mendadak. Yang satunya lagi ayah dari siswi tersebut jatuh bersama anaknya yang bungsu setelah diserempet truk pembawa ayam potong kemarin (30-11-2016) yang membuatnya sempat dilarikan ke RS. Setahu saya sih saya belum pernah melihat truk pengangkut ayam ini berjalan pelan di jalan. Saya selalu melihatnya sopirnya dah serasa laksana membalap di sirkuit F1. 
Kalau menilik pengalaman saya sendiri sih bukan berarti saya tidak pernah mengalami kecelakaan seumur hidup. Saya sudah 3 kali menga
laminya:

1. Saat masih SMA dulu. Waktu itu berangkat sekolah hari masih pagi. Di jalan saya bertemu dengan sekelompok anak-anak naik sepeda asik bergurau di jalanan di depan bergerak searah dengan motor saya . Saya berusaha menjauhi mereka dengan mengambil posisi agak ke tengah tetapi rupanya jarak yang saya ambil masih belum cukup aman. Salah seorang dari mereka rupanya melenceng jauh ke kanan dan jadilah terserempet oleh motor saya. Dia jatuh sementara saya terpental ke depan beberapa meter. Untung saat itu jalan masih sepi. Celana seragam dan jaket jeans saya robek. Kaki dan tangan lecet-lecet berdarah. Si anak saya amati tidak lecet tetapi sudah menjadi “hukum” tak tertulis di Indonesia kalau ada kecelakaan yang melibatkan motor vs sepeda maka apapun kronologinya si motor pasti bersalah. Orang-orang yang berkerumun langsung “memvonis” saya dan mendenda saya. Ya sudah saya kasih si anak uang ala kadarnya karena namanya juga masih sekolah tidak punya banyak duit. Jadi teringat kejadian yang menimpa salah seorang teman SMA saya dulu. Waktu itu dia berangkat menggunakan mobil. Ketika belok di perempatan sesudah menyalakan lampu sein mendadak tiba-tiba dari arah belakang melaju super kencang anak yang mengendarai motor dan langsung menghantam mobilnya. Si anak terkapar kemudian teman saya berusaha menolongnya tetapi di sekitarnya orang-orang yang berkerumun bukannya sibuk menyelamatkan si korban malah terkesan seperti akan menghakimi teman saya itu. Melihat gelagat yang kurang baik, teman saya yang tadinya sudah berniat baik akhirnya cepat-cepat masuk ke dalam mobil dan kabur. Dia membawa mobilnya jauh ke rumah orang tua saya di desa. Ditinggalkannya mobilnya yang penyok itu selama beberapa minggu sementara dia sendiri pulang naik angkot.
2. kejadian ini masih belum lama atau jelang bulan Ramadlan kemarin. Saat itu sore-sore sekitar pukul 16.30 saya, anak, dan istri naik motor di jalanan desa mau menghadiri sebuah acara pesta pernikahan salah seorang kerabat. Tiba-tiba dari arah kiri muncul anak perempuan mungkin usia 8 tahun naik sepeda super kencang tanpa menoleh kesana kemari langsung memotong jalan saya. Jarak saya dengan dirinya sangat dekat dan tidak ada waktu menghindar. Jadilah saya dan dia berbenturan. Saya, anak saya, istri saya, dan si anak jatuh semuanya. Lutut saya bolong, lutut istri luka-luka, kepala anak saya benjol, dan gusinya berdarah. Si pelaku badannya penuh tanah dan langsung menangis keras. Merasa tidak ada masalah saya anggap semuanya beres. Si anak kemudian diantar pulang ke rumah oleh salah seorang warga. Dari pengakuan si anak dia mengebut karena dikejar temannya dan teman yang mengejarnya itu juga mengaku kalau dia memang sedang mengejar si anak. Rupanya sepeda yang digunakan oleh si pelaku adalah bukan sepedanya sendiri tetapi sepeda milik anak yang sedang mengejarnya itu. seusai maghrib tiba-tiba datang si ayah ke rumah saya dengan muka masam. Awalnya dia bercerita kalau anaknya itu memang nakal sekali tetapi ujung-ujungnya eh dia mau minta ganti rugi. Gila tuh orang! Yang jelas salah anaknya kok mau menyalahkan saya? Meskipun masih anak-anak tidak berarti kebal hukum (kesannya sekarang adalah anak-anak itu kebal hukum) dan bisa berbuat seenaknya. Akhirnya saya tunjukkan kepala anak saya yang benjol dan gusinya hitam karena darah. Saya udah dirugikan dobel-dobel karena ulah anaknya itu. Saya, istri saya, dan anak saya luka semuanya dan kendaraan saya rusak eh kok masih bisa-bisanya dia mau minta ganti rugi. Lebih pantas kalau saya yang minta ganti rugi sebenarnya karena ulah anaknya itu. Seandainya mau menuntut lewat jalur hukum pun saya akan ladeni kok tetapi saya yakin kecil kemungkinannya. Wajar aja kelakukannya karena beberapa kemudian setelah saya telusuri rupanya pekerjaannya cuma buruh tani dan tamatan SD (maaf bukannya menghina tapi saya merasa memang kelakuannya ndeso banget). Rupanya dia malu dan terus pamit pulang. 

3. Ini terjadi mungkin 5 tahun lalu. Suatu pagi saya disuruh mengantar barang sekitar pukul 4 pagi. Ketika melewati perempatan dari arah kiri mendadak muncul motor. Rupanya lampu motor itu tidak cukup terang (warnanya kuning pudar maklum motor lawas) sehingga tidak begitu kelihatan dalam gelap oleh saya. Rupanya si motor juga kaget dengan saya dari arah kanan dan jadilah kami bertubrukan. Motor saya dan dia pecah berantakan karena kami agak kencang yang mungkin kami berdua merasa masih pagi buta sehingga bebas melaju. Habis tabrakan itu badan sakit saya semua rasanya. Hampir semingguan saya baru bisa beraktivitas dengan normal.
Syukurlah meskipun sudah beberapa kali mengalami kecelakaan lalu lintas tetapi tidak terjadi sesuatu yang fatal. Meskipun demikian bagi saya jalanan bukanlah tempat yang aman. Ada saja peluang yang bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan. Kalau kejadian-kejadian yang hampir menyebabkan saya mengalami kecelakaan juga ada beberapa kali. Ini saya coba tulis yang masih saya ingat:

1. saat lebaran kemarin. Jalanan padat luar biasa. Semua kendaraan hanya bisa merayap. Saat itu sore hari saya baru pulang bersilaturahmi naik motor bersama anak dan istri dari arah timur ke barat. Rupanya kendaraan yang dari arah barat membludak hingga lewat marka sementara dari arah saya cuma sedikit. Jalanan yang menjadi lajur saya jadi menyempit. Mendadak beberapa meter di depan langsung nyelonong anak laki-laki pas dengan arah saya. Saya kaget sekali dan langsung banting setir keluar jalan. Saya tidak habis pikir itu anak apa lagi mabuk ya? Apakah tidak melihat dari arah berlawanan ada saya? Kalau sampai bertabrakan gimana? Ckckck...

2. Beberapa hari lalu saya dan anak saya naik motor sore-sore sambil bersantai. Dari arah belakang tiba-tiba sebuah truk gandeng melaju sangat kencang padahal jalanan sempit. Truk yang depan bisa melewati saya dengan baik tetapi truk yang kedua ini tiba-tiba mepet banget dengan saya padahal saya sudah ekstra minggir. Terpaksa saya banting setir keluar jalan. Seharusnya pemerintah melarang atau paling tidak mengurangi besar truk yang melewati jalan-jalan sempit atau sebenarnya sudah ada larangan itu tetapi tidak diindahkan? Entahlah! 

3. Waktu diantar bapak berangkat sekolah saat SMA dulu. Waktu itu hari masih pagi sekitar pukul 5.30. Tiba-tiba dari arah kiri sebuah motor menyalip dengan kencang dan menyenggol kami. Untung kami tidak jatuh tetapi justru motor yang menyerempet itu yang oleng kemudian menabrak pohon asam. Pengendaranya dua orang lelaki. Mereka kemudian terjatuh di sebuah sungai kering dan tak sadarkan diri. Meskipun sudah jatuh tetapi motornya masih tetap menyala yang kemudian terbakar dan mengeluarkan asap. Saya lihat motornya memang motor bodong. Para warga sekitar langsung berdatangan menolong dan sepertinya kedua orang itu seperti sedang mabuk oleh miras. 
Sekarang keadaan di jalan sudah mirip kayak hutan rimba menurut saya. Semua kendaraan tidak peduli besar kecil berpacu kencang padahal lebar jalan juga hanya segitu gitu aja mulai dari saya masih orok. Dulu rasanya jarang sekali melihat peristiwa kecelakaan di jalan raya. Kalau sekarang hampir 1 minggu sekali saya selalu melihat ada kecelakaan di jalan. Di sisi kendaraan saat ini kalau melihat trennya dibuat semakin mudah digeber dan semakin nyaman oleh produsennya sementara pertumbuhan kendaraan semakin tidak terkendali karena buruknya transportasi umum. Jalanan semakin padat dan orang semakin tidak mau bersabar dengan kemacetan yang ada. Ada yang bilang kalau jumlah kecelakaan dalam setahun lebih banyak daripada korban perang dunia. Berarti entah tiap beberapa menit pasti ada orang yang mengalami kecelakaan lalu lintas. 
Peristiwa kecelakaan paling tragis terjadi sekitar 5 tahun lalu. Ini bukan kejadian yang saya alami sendiri. Waktu itu sebuah truk pengangkut jagung yang kelebihan muatan tiba-tiba terguling. Mungkin karena muatan yang berlebihan membuat truk susah dikendalikan. Sang sopir langsung melarikan diri. Yang tragis adalah ada 2 orang anak masih muda pengendara motor yang berada di dekat truk tertimpa jagung. Muatan jagung entah berapa ton menimpa mereka. Butuh waktu lama mengevakuasi mereka dan hasilnya sangat mengerikan. Badan mereka hancur lebur tertindih jagung. Helm mereka juga hancur beserta isi kepalanya. Yang aneh hingga kini saya masih bisa sering melihat truk-truk yang kelebihan muatan itu melenggang di jalanan. Kok bisa ya?
close

UNTUK SAAT INI, ARTIKEL BLOG AKAN DITUTUPI. SEGERA KELUAR/CLOSE TAB INI ATAU TEKAN DISINI. JIKA ANDA TETAP INGIN MEMBUKA ARTIKEL INI, SILAHKAN TEKAN TOMBOL CLOSE. DENGAN ANDA MEMBUKA ARTIKEL KEMBALI, TANGGUNG JAWAB SEPENUHNYA MILIK ANDA, SAYA SUDAH PERINGATI UNTUK MENUTUP TAB INI. TERIMA KASIH. - ADMIN